Sabtu, 01 Oktober 2011

SEJAUH MANA SEBUAH ALIRAN DIKATAKAN SESAT ?

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu 'ala Rasulillah, Waba'du.

Kesesatan sebuah aliran umumnya bisa dideteksi manakala secara aqidah telah menyimpang dari aqidah ahlussunnah wal jama'ah. Dan apa serta bagaimana aqidah ahlussunnah wal jama'ah itu tentu tidak bisa dengan mudah diuraikan disini.

Penyimpangan dari sudut aqidah misalnya:

a. Tidak mengakui keesaan Allah

b. Tidak mengakui kebenaran Islam atau mengakui bahwa agama selain Islam juga benar.

c. Termasuk juga tidak mengakui bahwa Muhammad SAW adalah nabi dan rasul terakhir.

d. Mengatakan bahwa Qur'an tidak cocok untuk zaman sekarang atau menafsiri Qur'an hanya untuk kepentingannya sendiri tanpa mengacu kepada metode penafsiran Qur'an yang dibenarkan.

e. Menolak kebenaran hadits (ingkarus sunnah). Dan masih banyak lagi bentuk pemahaman yang menyimpang dari sisi aqidah.

Sedangkan bila dilihat dari sisi syari'ah, paling tidak bila sebuah aliran telah meninggalkan medote istimbath hukum yang telah disepakati oleh para fuqaha, bisa juga dianggap sesat. Misalnya tidak meyakini adanya shalat 5 waktu, tidak meyakini kewajiban puasa, zakat atau haji. Termasuk tidak mengakui kewajiban penerapan hukum Islam.

Untuk bisa mengetahui kesesatan sebuah aliran, memang perlu adanya pendalaman ajaran Islam dengan berguru kepada para ulama yang shalih, diakui keilmuannya oleh dunia Islam dan juga dengan membaca buku-buku yang juga diakui keshahihannya.

Selain itu anda bisa juga membaca buku yang khusus ditulis untuk mengungkap kesesatan sebuah aliran tertentu. Saat ini cukup banyak buku yang sudah ditulis demi memberikan peringatan kepada umat Islam akan bahaya aliran sesat.

Namun ada ciri yang biasanya selalu dimiliki oleh sebuah aliran sesat. Yaitu kecenderungan untuk menutup-nutupi inti ajarannya kepada khalayak umum. Kecuali kepada orang-orang yang dianggap sudah loyal dan siap bertaqlid buta, maka barulah doktrin-doktrin asli kesesatan ajaran itu mulai disuntikkan. Pada saat itu, korban tentu sudah bisa berkutik lagi karena sudah terhipnotis oleh kharisma tokoh atau sosok aliran itu sendiri.

Kedua, aliran sesat hanya bisa tumbuh di kalangan yang awam dengan ajaran Islam. Sebaliknya di kalangan yang lumayan pemahaman Islamnya, aliran sesat dengan mudah bisa dijatuhkan doktrinnya. Karena itu kalau anda ingin terlindung dari aliran sesat, lebih banyaklah bergaul dengan para ulama dan orang-orang yang berilmu.

Wallahu a'lam bishshawab.
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

Kamis, 22 September 2011

BANDINGKAN CINTA KITA DENGAN CINTA-NYA !

Cinta adalah memberi, dengan segala daya dan keterbatasannya
seorang pecinta akan memberikan apapun yang sekiranya bakal membuat yang
dicintainya senang. Bukan balasan cinta yang diharapkan bagi seorang pecinta
sejati, meski itu menjadi sesuatu yang melegakannya. Bagi pecinta sejati, senyum dan kebahagiaan yang dicintainya itulah yang menjadi tujuannya.
Cinta adalah menceriakan, seperti bunga-bunga indah di taman yang
membawa kenyamanan bagi yang memandangnya. Seperti rerumputan hijau di
padang luas yang kehadirannya bagai kesegaran yang menghampar. Seperti taburan pasir di pantai yang menghantarkan kehangatan seiring tiupan angin yang menawarkan kesejukkan.
Dan seperti keelokan seluruh alam yang menghadirkan kekaguman terhadapnya.
Cinta adalah berkorban, bagai lilin yang setia menerangi dengan
setitik nyalanya meski tubuhnya habis terbakar. Hingga titik terakhirnya, ia pun
masih berusaha menerangi manusia dari kegelapan. Bagai sang Mentari, meski
terkadang dikeluhkan karena sengatannya, namun senantiasa mengunjungi alam dan segenap makhluk dengan sinarannya. Seperti Bandung Bondowoso yang tak
tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibu sendiri. Tajmahal yang indah di India,
di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja
juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari
cinta.
Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera
kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih
sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan
kehidupan yang lebih baik. Cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang
mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih
rendah.
Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta.
Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang dihasilkannya.
Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa
kita nikmati dengan cinta. Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus
berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan.
Tentang Cinta itu sendiri, Rasulullah dalam sabdanya menegaskan bahwa tidak beriman seseorang sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya. Al Ghazali berkata: "Cinta adalah inti keberagamaan.
Ia adalah awal dan juga akhir dari perjalanan kita. Kalaupun ada maqam yang
harus dilewati seorang sufi sebelum cinta, maqam itu hanyalah pengantar ke arah
cinta dan bila ada maqam-maqam sesudah cinta, maqam itu hanyalah akibat dari
cinta saja." Disatu sisi Allah Sang Pencinta sejati menegaskan, jika
manusia-manusia tak lagi menginginkan cinta-Nya, kelak akan didatangkan-Nya
suatu kaum yang Dia mencintainya dan mereka mencintai-Nya (QS. Al Maidah:54). Maka, berangkat dari rasa saling mencintai yang
demikian itu, bandingkanlah cinta yang sudah kita berikan kepada Allah dengan
cinta Dia kepada kita dan semua makhluk-Nya.
Wujud cinta-Nya hingga saat ini senantiasa tercurah kepada kita,
Dia melayani seluruh keperluan kita seakan-akan Dia tidak mempunyai hamba selain kita, seakan-akan tidak ada lagi hamba yang diurus kecuali kita. Tuhan melayani
kita seakan-akan kitalah satu-satunya hamba-Nya. Sementara kita menyembah-Nya seakan-akan ada tuhan selain Dia. Apakah balasan yang kita berikan sebagai imbalan dari Cinta yang
Dia berikan? Kita membantah Allah seakan-akan ada Tuhan lain yang kepada-Nya kita bisa melarikan diri. Sehingga kalau kita "dipecat" menjadi makhluk-Nya, kita bisa pindah kepada Tuhan yang lain.
Tahukah, jika saja Dia memperhitungkan cinta-Nya dengan cinta
yang kita berikan untuk kemudian menjadi pertimbangan bagi-Nya akan siapa-siapa yang tetap bersama-Nya di surga kelak, tentu semua kita akan masuk neraka. Jika Dia membalas kita dengan balasan yang setimpal, celakalah kita. Bila Allah
membalas amal kita dengan keadilan-Nya, kita semua akan celaka. Jadi, sekali
lagi bandingkan cinta kita dengan cinta-Nya. Wallahu a'lam